Tangerang Utara News- Provincial Environment and Natural Resources Officer, Guimaras Environment and Natural Resources Office, Leonard Pasiderio menceritakan titik balik Guimaras, Filipina, yang menerapkan pengelolaan pesisir terpadu (ICM).

Hal ini bermula pada tragedi tumpahan minyak pada tahun 2006. “Kejadian ini menghabiskan biaya US$2 juta, dan mengakibatkan bencana lingkungan,” kata Leonard di Hotel Atria Gading Serpong, Kamis (27/10/2022).

Pada kejadian 11 Agustus tersebut, disebabkan oleh kapal tanker yang tenggelam karena diterpa badai besar. Selain merusakan ekosistem pantai, Leonard menyebut tumpahan minyak di lepas pantai itu membuat perekonomian masyarakat pesisir Guimaras hancur. Oleh karena itu pihaknya berpikir bagaimana mengembalikan kondisi seperti sedia kala.

Sehingga pada 2007, Guimaras pun mempertimbangkan untuk menerapkan ICM dan bergabung dengan Kemitraan dalam Pengelolaan Lingkungan Pesisir di Asia Timur (PEMSEA). Lalu secara paralel, pada tahun 2008, PEMSEA mengidentifikasi nilai-nilai, tantangan lingkungan, serta inisiatif berkelanjutan yang dapat dilakukan oleh Guimaras.

Diketahui, PNLG Forum 2022 yang digelar oleh Partnerships in Environmental Management for The Seas of East Asia (PEMSEA) Network of Local Governments (PNLG) diselenggarakan di Atria Hotel Gading Serpong, Kabupaten Tangerang, pada 25-29 Oktober 2022. Acara ini dihadiri delegasi-delegasi 53 pemerintah daerah dari sembilan negara secara langsung dan dua negara anggota PEMSEA lainnya hadir secara daring, termasuk Presiden PNLG Le Quang Nam.

Forum internasional ini diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang di mana Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar menduduki posisi strategis di organisasi PNLG sebagai Wakil Presiden. Desa Ketapang menjadi model konservasi unggulan Tanah Air, dari desa kumuh menjadi desa nelayan terpadu dan tertata.(SM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *